Saturday, April 9, 2016

Cinta dalam bentuk

Dalam badai di tengah laut antara pulau Pari dan Pramuka waktu itu, di tengah hujan deras dan petir yang menggelegar, kamu yang Ningrum bayangkan dalam pikiran. Pola wajahmu dan bagaimana ekspresimu saat mencoba memecahkan rumus sulit. Bagaimana kamu menjadi terlihat sangat serius dan membuat aura yang kata orang menyeramkan di sekitarmu. Tapi Ningrum tidak pernah menganggap kamu menyeramkan. Ningrum selalu melihat kamu sebagai teka-teki, dan mungkin itu kesalahan pertama Ningrum. Karena teka-tekimu terlalu rumit untuk Ningrum pecahkan.

Di bawah hujan rintik-rintik saat kita beli tahu untuk orang-orang keraton waktu itu, di antara genangan lebar dan tapak basah, Ningrum merasa nyaman. Ningrum merasa senyum yang ada di wajahmu itu adalah bayaran yang Ningrum terima untuk segala usaha Ningrum... Yang lagi-lagi untuk memecahkan teka-tekimu. Kilas balik ke masa itu, Ningrum sadar. Semua itu bukan teka-tekimu; semua itu adalah teka-teki yang Ningrum buat sendiri dan kebetulan waktu dan tempat yang pas memungkinkan Semesta membawamu kedalamnya.

Saat mata kita beradu di dalam kaca waktu itu...

Ah, rasanya Ningrum sudah menutup lingkaran itu. Rasanya Ningrum sudah bilang untuk membersihkan debu dan menutup pintu. Sejak Raja dan Putri bersatu, keraton bukan lagi tempat untuk Ningrum. Ningrum sudah bertekad untuk meninggalkan itu semua di belakang. Tapi seperti yang tembang waktu itu kamu dendangkan untuk Ningrum, sampai aku pergi dan kau pula akan pergi... kita tahu waktu perlahan menutup... saat itulah aku memandangmu pergi.

Segala waktu yang sudah lewat ini, memberi Ningrum pelajaran tentang cinta dalam berbagai bentuk. Setiap mil laut yang Ningrum lewati, setiap wajah baru yang Ningrum temui semenjak pergi dari lingkaran keraton... Mengajarkan Ningrum tentang arti rasa hakiki, yang akan selalu ada. Ia hanya berubah bentuk dan menyesuaikan dengan perubahan-perubahan. Tapi ia tetap disana.

Dan yang Ningrum tahu, ternyata bukan kamu tujuan Ningrum pulang. Bukan kamu tempat Ningrum berbagi cerita sampai tua. Bukan kamu yang menemani Ningrum di pinggir air mancur. Ternyata bukan kamu.

Semoga kamu bahagia, karena Ningrum sekarang bahagia. Semoga mimpi-mimpi besarmu sedang dalam proses perwujudan nyata lantaran usahamu yang Ningrum tahu sudah dimulai sejak dahulu.

Untuk segala rasa bersalah, rasa berpisah, rasa cinta dalam berbagai bentuk.

Sampai jumpa.

--------------------------------------------------------------

Sequel dari Kata Hati Ningrum (2013). Ningrum adalah tokoh drama yang berkarakteristik dramatis, ikhlas dan rela berkorban. Sepenggal cerita Ningrum tentang perjalanan hati dan pencarian jati diri.

No comments:

Post a Comment