Friday, April 22, 2016

in the middle of an earthquake

It has been a week full of earthquakes here in Beppu, Oita. The biggest earthquake happened last week on Saturday, resulting in students fleeing to their hometowns the next day and APU cancelling school for a week. Don't know if I should be happy cause I have the time to finish all these homeworks and tasks in peace, or I should cringe at all make-up classes on Saturday. Either way, I'm thankful that now I'm safe and sound here in my lovely dorm, AP House. Able to do basic human things; breathing, eating, sleeping. Which are what I've been doing this past week (other than doing homework and spending my money on a nabehodai last Wednesday which makes me don't wanna go downtown at least in two weeks)

School hasn't even been on a full swing after spring break, only a week of school and then we have another full week of break! God is good!

Although my local exchange trip to Hiji town is cancelled... They move it to June 5th. Hope everything will go as planned this time onward. I'm really looking forward to make and eat fancy sushi!

And now, people, here I am, still jobless and still looking for a part time job. I had an interview with a hotel two weeks ago and I had a position already! They said they were going to call me the next Wednesday, which they did not. I called them on Thursday asking why, and they told me to wait further. Ok.. I was waiting... Then on Saturday the biggest earthquake in Japan after Fukushima tsunami in 2011 happened in Kumamoto, which is only one hour away from where I live. Resulting in only 300 guests left in the hotel that supposed to accommodate over 3000 guests. That also makes Nadya and Yun who work in one of the restaurants there temporarily on a break... Because apparently they don't need a lot of restaurants open with only 300 guests left. WHICH makes me even more pessimistic they would hire me anytime soon... And that is a bad news, I told ya. I need to earn money soon for all my summer plans.

Anyhow, I'm here, safe and sound, and truly thankful for all the circumstances happening right now in my life. And for loved ones who makes this life of mine meaningful. And for my readers who are curious enough about what is happening in my life right now.

I love you, nonetheless. Have a good life, peeps! Ciao!

Saturday, April 9, 2016

Cinta dalam bentuk

Dalam badai di tengah laut antara pulau Pari dan Pramuka waktu itu, di tengah hujan deras dan petir yang menggelegar, kamu yang Ningrum bayangkan dalam pikiran. Pola wajahmu dan bagaimana ekspresimu saat mencoba memecahkan rumus sulit. Bagaimana kamu menjadi terlihat sangat serius dan membuat aura yang kata orang menyeramkan di sekitarmu. Tapi Ningrum tidak pernah menganggap kamu menyeramkan. Ningrum selalu melihat kamu sebagai teka-teki, dan mungkin itu kesalahan pertama Ningrum. Karena teka-tekimu terlalu rumit untuk Ningrum pecahkan.

Di bawah hujan rintik-rintik saat kita beli tahu untuk orang-orang keraton waktu itu, di antara genangan lebar dan tapak basah, Ningrum merasa nyaman. Ningrum merasa senyum yang ada di wajahmu itu adalah bayaran yang Ningrum terima untuk segala usaha Ningrum... Yang lagi-lagi untuk memecahkan teka-tekimu. Kilas balik ke masa itu, Ningrum sadar. Semua itu bukan teka-tekimu; semua itu adalah teka-teki yang Ningrum buat sendiri dan kebetulan waktu dan tempat yang pas memungkinkan Semesta membawamu kedalamnya.

Saat mata kita beradu di dalam kaca waktu itu...

Ah, rasanya Ningrum sudah menutup lingkaran itu. Rasanya Ningrum sudah bilang untuk membersihkan debu dan menutup pintu. Sejak Raja dan Putri bersatu, keraton bukan lagi tempat untuk Ningrum. Ningrum sudah bertekad untuk meninggalkan itu semua di belakang. Tapi seperti yang tembang waktu itu kamu dendangkan untuk Ningrum, sampai aku pergi dan kau pula akan pergi... kita tahu waktu perlahan menutup... saat itulah aku memandangmu pergi.

Segala waktu yang sudah lewat ini, memberi Ningrum pelajaran tentang cinta dalam berbagai bentuk. Setiap mil laut yang Ningrum lewati, setiap wajah baru yang Ningrum temui semenjak pergi dari lingkaran keraton... Mengajarkan Ningrum tentang arti rasa hakiki, yang akan selalu ada. Ia hanya berubah bentuk dan menyesuaikan dengan perubahan-perubahan. Tapi ia tetap disana.

Dan yang Ningrum tahu, ternyata bukan kamu tujuan Ningrum pulang. Bukan kamu tempat Ningrum berbagi cerita sampai tua. Bukan kamu yang menemani Ningrum di pinggir air mancur. Ternyata bukan kamu.

Semoga kamu bahagia, karena Ningrum sekarang bahagia. Semoga mimpi-mimpi besarmu sedang dalam proses perwujudan nyata lantaran usahamu yang Ningrum tahu sudah dimulai sejak dahulu.

Untuk segala rasa bersalah, rasa berpisah, rasa cinta dalam berbagai bentuk.

Sampai jumpa.

--------------------------------------------------------------

Sequel dari Kata Hati Ningrum (2013). Ningrum adalah tokoh drama yang berkarakteristik dramatis, ikhlas dan rela berkorban. Sepenggal cerita Ningrum tentang perjalanan hati dan pencarian jati diri.

Tuesday, April 5, 2016