Thursday, August 7, 2014

Sebelum sedekat nadi, kita pernah sejauh matahari

Tempat itu menjadi awal kisah kita.

Tempat yang ramah dan hangat, dengan suasana kompetitif yang membuat dinamis. Tempat yang pernah pada suatu hari dulu, selalu dirindukan. Dimana nyawanya di hari pertama terasa sampai ke sukma.

Bukan anak populer.

Kamu duduk di barisan paling kiri, pendiam dan selalu berkonsentrasi. Kita tak tahu satu sama lain, dan kamu asing untukku. Kehidupan kita berbeda, lingkaran kita tak sama. Tanpa kita tahu, Ia menggariskan kita untuk berpapasan di satu persimpangan, tak lama setelah itu.

Kamu ambisius.

Komunikasi pertama kita lewat pesan singkat. Apa kamu masih ingat apa yang kamu kirim? Instruksi tentang tugas kelompok yang batas waktunya masih lama. Hal pertama yang terlintas dipikiranku: kamu ambisius, dan aneh. Cara kamu berbahasa. Waktu itu aku pura-pura mengerti semua yang kamu instruksikan.

Lalu, selama dua minggu kita melewati hari bersama.

Duduk di sudut dengan sapu, cat, dan berbagai perlengkapan lainnya. Kamu mengajariku banyak hal, secara akademik juga tentang karakter. Aku ingat pernah menjelaskan satu topik pelajaran, hal yang sangat jarang terjadi karena biasanya kamu yang selalu jadi guru untukku. Saat melihat balik ke kenangan itu, aku sadar, kamu bukannya tidak mengerti. Kamu hanya ingin tahu seberapa jauh aku mengerti.

Rahasia.

Sejak kapan aku berbagi rahasia denganmu? Dan yang aku tahu, itu selalu satu arah. Kamu yang tertutup dan memagari hidup.

Tangis

'Kita boleh sayang seseorang, tapi jangan berharap sayang itu dibalas. Menyayangi tanpa ekspektasi,' begitu kata Ibu saat aku menangis. Mungkin sekarang kamu tau kelanjutan cerita itu. Dan kamu tau kamu adalah… Kamu.

Waktu aku pergi.

Malam itu, kamu menangis di bahuku.

Sebelum sedekat nadi, kita pernah sejauh matahari

Mungkin ini untuk sementara, mungkin ini untuk selamanya. Hal yang ku tau pasti, kita adalah arus air yang akan selalu mengalir. Mungkin kita akan bertemu di muara dan berpetualang bersama, atau... Kita akan terbelah dan mengarungi sungai kita masing-masing.

Sampai nanti.

-----------------------------------------------------------------------------------------------

Draft waktu gue masih di Amerika. Ini cerita tentang kita, tapi gue mendramatisasi dengan efek berlebihan. Given that I informed you about most of this post's content on the scrapbook I gave you. Just in case you found this post and wondering why it is so exaggeratedly tragic :*




No comments:

Post a Comment